indonesia.htm    

Reggy Hasibuan believes in empowering the young by giving them a voice and communication skills. In his hometown, he has spearheaded an initiative to raise environmental awareness through youth collective action. Meet Reggy Hasibuan—debater, climate change activist, and change-maker. His tool: Anomali, a youth empowerment centre he set up to better catalyze change.   

Read More    
Orange lozenge left     Orange lozenge right    
indonesia-popup-reggy.htm    

Kota Hijau dan Perubahan Iklim     Orange lozenge left    

Reggy Hasibuan suka membanyol. International Climate Champion ini bahkan mengunggah video yang menampilkan dirinya melawak ke YouTube. Aksinya lumayan mengundang senyum. Tapi, arek Malang, Jawa Timur, ini sama sekali sedang tak bercanda ketika meluncurkan proyek percontohan “The Green Municipality of Malang” dengan mentor Amol Titus, CEO IndonesiaWISE (Winning, Innovation, Sustainability, Excellence) dan anggota Dewan Penasihat Iklim. Reggy ingin menjadikan Malang sebagai kota “hijau” pertama di Indonesia.

Sebuah kota bisa disebut eco city jika peraturan-peraturan daerahnya mengadopsi nilai-nilai ekologis dan keadilan sosial. Untuk mudahnya, kota tersebut mengurangi ketergantungannya pada bahan bakar fosil dan bahan kimia sintetis, memangkas kerusakan alam, dan mampu memenuhi kebutuhan warganya secara adil dan efisien.

Persoalannya, apakah ide tersebut tak terlalu elitis dan mahal untuk Indonesia? Siapa pula yang bakal jadi motor penggerak, aparat birokrasi atau cukup kelompok kecil yang siap bekerja keras dalam langkah-langkah praktis? Reggy dan timnya sudah menyiapkan panduan konkret untuk sekian pertanyaan tersebut dalam workshop 18 November 2009. Tentu, ia juga mengharapkan umpan balik yang berharga dari audiens.

Di Inggris Raya, beberapa kota sudah bergerak menuju eco city. Sebuah studi yang baru-baru ini dilakukan oleh Forums for the Future mengisyaratkan bahwa  sekalipun pesan lingkungan sampai ke seluruh negeri, beberapa kota bergerak lebih progresif. Yang diukur oleh penelitian ini adalah kualitas hidup (lapangan kerja, kesehatan, pendidikan) dan kredensial hijaunya (fasilitas daur ulang, efisiensi energi, buangan zat asam arang, kualitas udara, dan kebijakan lingkungannya (prakarsa dan komitmen untuk melawan perubahan iklim dalam jangka panjang).

Juara pertama diraih Brighton dan Hove, disusul Edinburgh. Lima besar kota terhijau adalah kawasan relatif makmur. London, karena besarnya, relatif lebih banyak memproduksi zat asam arang dibandingkan kota-kota lain. Namun, ia masih mampu berada di urutan kesepuluh karena kebijakannya yang progresif untuk mengatasi perubahan iklim. London, misalnya, berada di urutan kedua terbawah untuk jejak transportasi karena tingginya penggunaan angkutan umum. Urutan paling bawah ditempati Liverpool karena buruknya kualitas air dan kurangnya visi menghadapi perubahan iklim.

Pengalaman Inggris tentu bisa dipetik untuk lahirnya kota-kota hijau di Indonesia.

indonesia-gew-programme.htm    

Climate Cool        

Indonesiawise       

Forum for the future       

Climate Education Report   

Entrepreneurship       

Education       

Agar Ide Makin Oke        

Museum Berbasis Komunitas       

Yayasan Arthur Guinness        

DCSIMG

The United Kingdom’s international organisation for cultural relations and educational opportunities.
A registered charity: 209131 (England and Wales) SC037733 (Scotland)
Our privacy and copyright statements.
Our commitment to freedom of information. Double-click for pop-up dictionary.

© British Council

Text Only Options

Top of page


Text Only Options

Open the original version of this page.

Usablenet Assistive is a UsableNet product. Usablenet Assistive Main Page.